Aksara Jawa Kuno Lengkap

Posted on

Aksara Jawa Kuno Lengkap – Halo sobat seputarcaraku.com, Pada materi kali ini kami akan mengulas mengenai Aksara Jawa dimana dalam hal ini mengenai Sejarah,Penulisan Aksara, Ciri dan Macam-macam aksara jawa, agar lebih dapat memahami dan mengerti selengkapnya dibawah ini.

Aksara Jawa
Aksara Jawa

Sejarah Aksara Jawa

Aksara Jawa dan Bali adalah perkembangan modern aksara Kawi, salah satu turunan dari aksara Brahmi yang dikembangkan di pulau Jawa. Selama periode Hindu-Budha, naskah-naskah ini terutama digunakan dalam literatur keagamaan dan juga dalam terjemahan Sanskerta yang umumnya ditulis dalam teks daun dan juga daun lontar. Selama periode Hindu-Budha, bentuk aksara Kawi ini secara bertahap menjadi aksara Jawa, tetapi dengan ejaan yang tetap. Pada abad ke-17, skrip dikembangkan dalam bentuk modern dan juga dikenal sebagai Hanacaraka / Caraka berdasarkan lima karakter pertamanya.

Caraka Utama digunakan oleh penulis istana kerajaan seperti kerajaan Surakarta dan Yogyakarta untuk menulis skrip pada berbagai mata pelajaran, termasuk cerita (serat), lagu kuno (kakawin), dokumen sejarah (babad) atau prediksi (primbon) ). Topik populer akan ditulis ulang beberapa kali. Naskah umum dihias dan jarang yang sangat sederhana. Hiasan dapat berupa tanda baca berlebihan atau bingkai halaman (disebut wadana) yang rumit dan kaya warna.

Pada tahun 1926, sebuah lokakarya di Sriwedari, Surakarta menghasilkan Wewaton Sriwedari (keputusan Sriwedari), yang merupakan dasar awal untuk normalisasi ortografis dari naskah Jawa. Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak pedoman tentang aturan dan ejaan naskah Jawa diterbitkan, termasuk Standar Panoelise Temboeng Djawa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1946 dan sejumlah pedoman yang ditetapkan oleh Kongres Bahasa Jawa (KBJ) antara 1991 sampai dengan 2006. KBJ juga memainkan peran dalam implementasi skrip Jawa dalam Unicode.

Baca Juga :  Etika Adalah

Namun, penggunaan aksara Jawa telah menurun sejak ejaan Jawa berdasarkan huruf Latin ditemukan pada tahun 1926, dan sekarang menggunakan huruf Latin yang lebih umum untuk menulis bahasa Jawa. Hanya beberapa majalah dan surat kabar yang masih mencetak dalam tulisan aksara Jawa, seperti Jaka Lodhang. Tulisan Jawa masih diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah dasar dan juga di sekolah menengah di provinsi berbahasa Jawa.

 

Penulisan Aksara Jawa

Dalam bentuk aslinya, aksara Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi. Tetapi dalam pendidikan modern, menuliskan aksaranya di atas garis

Aksara Hanacaraka mempunyai 20 huruf dasar(utama), 20 pasang huruf yang berfungsi untuk menutup vokal, 8 huruf “utama” (karakter murda, ada yang tidak cocok), 8 pasang huruf utama dan lima karakter swara (vokal depan), lima dari huruf rekan-rekan dan juga lima pasangnya, serta sandhangan sebagai pengatur vokal, surat khusus, tanda baca dan juga aturan yang mengatur penulisan.

 

Ciri Aksara Jawa

Aksara Jawa adalah sistem penulisan abugida yang ditulis dari kiri ke kanan. Setiap karakter yang diwakilinya mewakili suku kata dengan vokal / a / atau / ɔ /, yang dapat ditentukan dari posisi aksara dalam kata. Menulis aksara Jawa dilakukan tanpa menggunakan spasi (scriptio continua), dan oleh karena itu pembaca harus memahami teks bacaan untuk dapat membedakan setiap kata. Selain itu, dibandingkan dengan alfabet Latin, aksara Jawa juga tidak memiliki tanda baca dasar, seperti titik dua, tanda kutip, tanda seru, tanda tanya, dan tanda hubung.

Aksara Jawa dibagi menjadi beberapa jenis sesuai fungsinya. Aksara dasar terdiri dari 20 suku kata yang dapat digunakan untuk menulis bahasa Jawa modern, sementara jenis lainnya termasuk karakter Swara, tanda baca dan juga angka Jawa. Setiap suku kata dalam aksara Jawa memiliki dua bentuk, yang disebut nglegéna (aksara dasar), dan juga pasangan (terutama dalam bentuk skrip, ditulis di bawah aksara nglegéna yang digunakan untuk menulis kelompok konsonan).

Baca Juga :  Arti Mimpi Katak

Kebanyakan aksara selain aksara dasar ialah konsonan aspirasi / retroflex yang digunakan dalam bahasa Jawa Kuno karena dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta. Dalam perkembangan bahasa dan naskah Jawa, surat-surat ini kehilangan representasi aslinya dan juga mengubah fungsinya.

Sejumlah tanda diakritik disebut fungsi sandhangan memungkinkan Anda untuk mengubah vokal (seperti harakat dalam alfabet Arab), menambahkan konsonan akhir dan juga menunjukkan ejaan asing. Beberapa tanda diakritik dapat digunakan bersama, tapi tidak semua kombinasi diizinkan.

Macam-Macam Aksara Jawa

Berikut ini Macam-macam Penulisan Huruf/Aksara Jawa :

Aksara Pasangan (Huruf Pasangan)

Aksara pasangan biasa digunakan untuk menghapus vokal konsonan di depannya. Misalnya, untuk menulis mangan sega (makan nasi) bahwa pasangan perlu “se” sehingga “n” dalam mangan tidak membuat suara. Tanpa pasangan “s” tertulis, ia akan membaca manganasega (makanlah nasi).

Aksara Pasangan
Aksara Pasangan

Aksara Nglegena (Huruf Dasar )

Aksara Nglegena adalah Aksara dasar yang terdiri dari 20 suku kata atau biasa disebut Dentawiyanjana, termasuk, yaitu, yaitu:
ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, c’est, ma, ga, ba, ba, tha, nga

Aksara Nglegena
Aksara Nglegena

Aksara Rekan( Huruf Tambahan )

Aksara Rekan adalah huruf yang berasal dari penyerapan bahasa asing, yaitu: kh, f, dz, gh, z

Aksara Rekan
Aksara Rekan

 Aksara Murda (Huruf Utama)

Aksara Murda digunakan untuk menulis awal kalimat dan juga kata yang menunjukkan nama orang,gelar, lembaga, kota dan nama-nama lain yang, dalam bahasa Indonesia, menggunakan huruf kapital.

Berikut adalah skrip Murda dan pasangan Murda:

Pada titik ini, sebenarnya dapat dicoba secara langsung dan umumnya dianggap sah tanpa penambahan karakter lain (misalnya, seperti yang saya tulis di bawah). Karena rada riweuh selanjutnya juga untuk mempelajarinya.

Baca Juga :  Arti Mimpi Tersesat Lengkap
Aksara Murda
Aksara Murda

Aksara Swara (Huruf Vokal)

Aksara Swara adalah vokal utama atau huruf hidup: A, I, U, E, O dalam kalimat. Biasanya digunakan pada awal kalimat atau bahkan untuk nama dengan awalan vokal yang membutuhkan huruf kapital.

Demikianlah pembahasan tentang Aksara Jawa beserta ulasan lengkapnya, semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda, jangan lupa untuk selalu mengujungi website ini untuk mendapatkan artikel – artikel menarik sobat sekalian.